Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Hadirku Tak Terlihat, Hingga Dunia Menyebut Namaku

Hadirku Tak Terlihat, Hingga Dunia Menyebut Namaku

Hadirku Tak Terlihat

Namaku Raka.
Dan aku terbiasa tak dianggap.

Dari kecil, aku selalu duduk di barisan tengah. Tak terlalu pintar untuk dipuji guru, tak terlalu bandel untuk jadi perhatian. Aku bukan anak yang diundang ke panggung saat upacara, juga bukan yang dikejar BP karena coret-coret tembok. Aku di antaranya, abu-abu.

Terlihat, tapi tidak dikenali.
Ada, tapi tidak diingat.


Hal itu terbawa sampai dewasa. Di kantor, aku seperti benda statis. Meja kerjaku dekat jendela, jarang ada yang singgah kecuali tukang bersih-bersih. Ketika ada rapat, namaku jarang disebut untuk memberi pendapat. Ketika proyek sukses, kreditnya jatuh ke nama-nama yang lebih keras bicara, lebih rajin tampil, atau lebih rajin memuji atasan.

Aku ingat betul suatu ketika aku mengusulkan sistem manajemen dokumen digital ke divisi, lengkap dengan proposal. Responnya? Datar. Tidak ada tindak lanjut. Dua bulan kemudian, ide yang sama disampaikan oleh senior favorit bos, dan semua langsung bilang, “Brilian!”

Ya, brilian, kalau yang menyampaikan adalah orang yang dikenali.
Kalau kamu tak punya nama, ide hebatmu hanya akan dianggap angin lewat.


Di rumah, aku juga bukan bintang utama. Ibuku terlalu sibuk mengejar target penjualan skincare, ayahku sering mengurung diri di kamar dengan radio dan koran. Obrolan di meja makan sering terjadi tanpa menyebut namaku. Aku lebih sering jadi pendengar ketimbang pembicara, bahkan saat ulang tahunku sendiri. Kadang aku merasa, jika aku tiba-tiba lenyap esok pagi, mungkin butuh dua hari sampai seseorang benar-benar sadar.

Tapi aku tidak menyalahkan mereka. Dunia ini terlalu ramai untuk mengingat semua orang. Apalagi orang yang diam seperti aku.


Titik Balik

Lalu datang hari-hari sepi yang tidak kuundang. Pandemi menghantam, pekerjaan jadi lebih sunyi. Tidak ada lagi obrolan kantor, tidak ada lagi wajah-wajah di lorong. Hanya layar, tugas-tugas, dan kopi yang tak pernah cukup. Tapi di tengah sepi itulah aku menemukan ruang: ruang untuk menciptakan.

Aku mulai membuka kembali hobi lama: desain dan ilustrasi digital. Kuunggah beberapa hasil karyaku ke platform online, awalnya hanya untuk dokumentasi. Tak ada ekspektasi. Aku terlalu terbiasa untuk tidak berharap dilihat.

Sampai suatu hari, seorang desainer asal Eropa mengirimiku pesan. Ia menyukai salah satu karyaku, dan ingin mengajak kolaborasi untuk proyek NFT (waktu itu masih tren). Aku nyaris tak percaya. Tapi aku iyakan, diam-diam.

Proyek itu berjalan selama dua bulan. Aku kerja siang di kantor, malam begadang dengan laptop dan kopi sachet. Tidak ada yang tahu, karena tak ada yang bertanya.

Tapi aku tidak butuh diketahui. Aku hanya ingin merasa “hidup”.


Dunia Menyebut Namaku

Ketika proyek itu launching dan viral, semuanya berubah dalam sekejap. Namaku masuk daftar trending di platform desain. Followers bertambah ribuan dalam semalam. Media kreatif menghubungiku untuk wawancara. Bahkan klien luar negeri mulai mengantre di email.

Dan seperti sulap, orang-orang yang dulu tak pernah mengingat namaku, mulai menyebutnya berulang kali.

“Lo yang kemarin semeja sama gue, kan? Gila, keren banget!”
“Wah, dari dulu gue tuh udah curiga lo punya potensi.”
“Jadi mentor dong, Kak! Aku dulu pernah lihat lo di pantry, tapi malu nyapa.”

Aku ingin tertawa, tapi tak lucu.
Ingin marah, tapi buat apa?

Aku hanya mengangguk, senyum tipis. Kadang jawab, kadang tidak. Karena yang mereka rayakan bukan aku, tapi keberhasilanku.

Yang mereka puji bukan diriku, tapi pencapaianku.


Dulu hadirku tak terlihat. Kini aku sukses, dan semua merasa aku harus ada di mana-mana.

Undangan talkshow, job kolaborasi, ajakan nongkrong dari rekan kantor yang dulunya bahkan tak tahu nama belakangku. Bahkan bos besar yang dulu cuma menatap laptop saat aku bicara, kini menepuk pundakku saat lewat dan berkata, “Pinter kamu, Ka. Saya bangga.”

Bukan. Yang bangga adalah mereka yang baru melihat hasil, bukan proses.
Mereka yang mencintai versi terakhirku, tapi melewatkan semua luka yang kulalui.


Dan dari sinilah aku sadar sesuatu:

Bukan salah mereka tak melihatku.
Tapi salahku jika aku menaruh nilai hidupku di mata mereka.

Jika aku menunggu dunia mengakui sebelum merasa berharga, maka aku akan terus jadi pengejar pujian. Aku akan kelelahan mengejar validasi, dan lupa bahwa akulah yang tahu isi perjuanganku.

Kini aku hadir untuk diriku sendiri.
Bukan untuk disorot, bukan untuk ditepuk bahunya.
Tapi karena aku tahu nilainya, meski tak satu pun orang melihat.


Kita hidup di dunia yang cepat lupa.
Kebaikan tak selalu dihargai, kerja keras tak selalu dipuji, dan kehadiran tak selalu diakui.

Tapi itu bukan akhir. Karena saat waktunya tiba, dunia mungkin akan menyebut namamu.
Namun saat itu datang, semoga kamu tak lagi membutuhkannya.

Hadirku Tak Terlihat, Hingga Dunia Menyebut Namaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top