Gambar Pertama di Langit Senja
Kota Danara, kecil, tenang, dan dikelilingi danau yang tak pernah benar-benar diam. Setiap sore, cahaya matahari membias di permukaan air, memantulkan warna jingga ke jendela-jendela rumah kayu yang berjejer rapi. Di salah satu bangunan tua yang disulap menjadi kantor arsitektur minimalis, Rara duduk memandangi sketsa yang tak kunjung selesai.
Garis-garis pensilnya menggambarkan dinding, jendela, lalu terhenti di pintu. Pintu itu selalu membuatnya ragu. Seperti hubungan yang tak tahu arah: dibuka, atau tetap dikunci rapat.
“Masuk akal kalau pintunya menghadap barat,” suara berat itu terdengar di belakangnya.
Rara menoleh cepat. Ardi, lelaki berusia 37 tahun, atasannya, sekaligus pria yang entah sejak kapan menjadi denyut rahasia di dadanya, berdiri di ambang pintu dengan lengan terlipat. Mata tajamnya tak hanya membaca sketsa, tapi seolah bisa menembus isi kepala Rara.
“Kalau pintunya ke barat, matahari sore akan langsung masuk,” jawab Rara pelan, sambil kembali menunduk ke kertasnya.
“Dan kamu suka cahaya sore,” kata Ardi, masih berdiri. Masih memperhatikan. Masih terlalu dekat.
Rara tahu itu. Cahaya sore yang hangat tapi tak menyengat, seperti… tatapan pria itu. Tatapan yang kadang terlalu lama, terlalu dalam, tapi selalu bisa dibenarkan dalam bahasa profesional.
“Kita butuh yang fungsional,” Rara mengalihkan perhatian, bersikap dingin. “Tak semua ruang butuh romantisme.”
Ardi tertawa pelan. “Tapi manusia butuhnya lebih dari fungsi, Ra. Mereka butuh perasaan.”
Rara meneguk ludah. Satu detik terlalu lama ia menatap mata Ardi. Satu detik cukup untuk menyadari: semua garis batas yang ia bangun dalam pikirannya, mulai kabur sore itu.
Danau di luar sana bergelombang pelan. Seperti dadanya.
“Kamu tahu, pintu barat juga bisa dibuka sebagian,” ucap Ardi, suaranya merendah.
“Supaya cahaya masuk, tapi tidak membakar?” tanya Rara.
“Supaya kamu bisa tetap melihat senja… tanpa harus terbakar olehnya.”
Mereka saling diam. Udara sore terasa pekat di antara mereka. Tak ada yang menyentuh. Tapi jarak antara mereka lebih tipis dari bayangan di lantai kayu.
Bersambung ke Bagian 2…