Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Merdeka dari Apa? Tantangan Kemerdekaan di Era Digital

Ilustrasi seorang pria memanjat tiang panjat pinang digital yang terbuat dari kabel dan ikon media sosial.

Setiap 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan Indonesia. Kita kibarkan bendera merah putih, adakan upacara, dan tentu saja, lomba 17-an yang selalu seru: mulai dari balap karung sampai panjat pinang. Tapi, pernahkah Anda berpikir, apa sih makna merdeka di era digital yang serba cepat ini? Dulu, para pahlawan kita berjuang merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik. Kini, tantangan kita mungkin tidak lagi berupa peluru atau bambu runcing, melainkan hal-hal yang lebih halus, tetapi tak kalah berbahaya.


Merdeka dari Jempol yang Gatal

Di zaman media sosial ini, jempol kita sering kali lebih cepat dari akal sehat. Begitu ada berita viral, langsung klik, share, tanpa cek kebenarannya. Nah, ini tantangan pertama: merdeka dari hoaks dan berita palsu. Kita sering lupa bahwa kebebasan berpendapat tidak sama dengan kebebasan menyebar kebohongan. Mengutip perkataan bijak (yang mungkin bukan Soekarno), “Jari yang bijak membawa kedamaian, jari yang bodoh membawa perpecahan.” Coba bayangkan, betapa merdekanya kita jika tidak lagi mudah terprovokasi oleh berita-berita yang bikin naik darah?


Merdeka dari Budaya Instan

Dulu, untuk mendapatkan informasi, kita harus ke perpustakaan, baca buku, atau dengar radio. Sekarang? Cukup ketik di Google, semua langsung muncul. Praktis, tapi juga menciptakan tantangan baru: merdeka dari budaya instan. Kita jadi terbiasa dengan hasil yang cepat tanpa proses. Belajar jadi malas, berpikir kritis jadi ogah-ogahan. Padahal, kemerdekaan sejati itu butuh perjuangan, butuh proses. Sama seperti panjat pinang, tidak ada yang bisa langsung sampai di puncak tanpa jatuh-jatuh dulu, kan?


Merdeka dari Kebisingan Digital

Ponsel kita terus berdering, notifikasi berhamburan, grup chat ramai sampai subuh. Kita terjebak dalam “kebisingan” digital yang membuat kita sulit fokus. Kita jadi sulit menikmati momen, sulit berinteraksi tatap muka, dan parahnya, sulit mengenali diri sendiri. Maka, tantangan berikutnya adalah merdeka dari ketergantungan digital. Cobalah sesekali “puasa” medsos, matikan notifikasi, atau bahkan simpan ponsel jauh-jauh saat sedang bersama keluarga. Itu bukan berarti anti-teknologi, tapi lebih ke arah mengendalikan, bukan dikendalikan.


Ilustrasi humoris pria memanjat tiang panjat pinang digital yang penuh ikon media sosial.
Tantangan 17-an di era modern: berani panjat pinang digital?

Merdeka itu Pilihan

Jadi, kemerdekaan di era digital ini bukan tentang lari dari teknologi, melainkan tentang bagaimana kita bijak menggunakannya. Kemerdekaan adalah pilihan untuk tidak terjerumus dalam hoaks, untuk menghargai proses, dan untuk mengendalikan teknologi alih-alih dikendalikan. Sama seperti pahlawan kita dulu yang memilih berjuang, kita juga bisa memilih untuk jadi pengguna internet yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.

Mari jadikan 17 Agustus ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri: sudahkah kita merdeka sepenuhnya di dunia yang serba terkoneksi ini?

Merdeka dari Apa? Tantangan Kemerdekaan di Era Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top