Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Meja Makan Kita, Panggung Demokrasi yang Paling Sunyi

Sebuah meja makan yang hangat di dalam rumah, dengan siluet demonstran yang jauh di luar jendela.

Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya hangat, menyoroti mangkuk sup yang masih mengepul. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara sirene ambulans yang berkejaran, disusul teriakan massa yang entah datang dari mana. Di luar sana, jalanan kota riuh oleh teriakan dan tuntutan, sementara di dalam rumah ini, keheningan terasa begitu berat. Di sekeliling meja, kami duduk. Bapak, Ibu, dan saya. Tak ada obrolan ringan seperti biasanya. Topik hari ini hanya satu: gelombang demonstrasi yang tak kunjung reda. Ya, meja makan kita kini bukan hanya tempat untuk berbagi makanan, tetapi juga panggung demokrasi yang paling sunyi, tempat di mana isu-isu besar bangsa bersemayam dalam keheningan yang canggung.


Bukan Sekadar Beda Pendapat

Dulu, perbedaan pendapat soal film atau tim sepak bola adalah hal biasa. Kami tertawa, berdebat, dan pada akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Tapi kali ini berbeda. Pembicaraan kami terasa seperti berjalan di atas ranjau. Setiap kata harus dipilih dengan hati-hati. Bapak, yang selalu percaya pada stabilitas, menganggap demonstrasi adalah pemborosan energi. “Buang-buang waktu,” katanya, sambil menyendok nasi. Sementara Ibu, yang cemas karena harga sembako terus naik, mengangguk-angguk saat melihat tuntutan demonstran di televisi.

Di sisi lain, sebagai mahasiswa, saya merasa harus ikut bersuara. Suara-suara di jalanan itu adalah suara teman-teman saya. Ada idealismenya, ada frustasinya. Saya ingin menjelaskan kepada mereka, tapi entah kenapa, setiap kali saya coba, yang ada hanyalah tatapan kosong dan kekhawatiran. Mata Bapak dan Ibu seolah bertanya, “Apa kamu juga akan pergi ke jalanan?”


Kekhawatiran, Jeda, dan Akhirnya Percakapan

Ketegangan itu tidak berlangsung lama. Saya ingat malam itu, Ibu tiba-tiba memecah keheningan. “Apa yang kalian tuntut sebenarnya?” tanyanya, dengan nada yang jauh lebih lembut.

Pertanyaan itu seperti memecah cangkang yang keras. Saya mulai menjelaskan. Bukan tentang kekuasaan, bukan juga tentang ideologi. Tapi tentang harapan. Harapan akan hidup yang lebih layak. Harapan agar pendidikan bisa diakses semua orang. Saya juga bercerita tentang teman-teman yang putus kuliah karena biaya, dan tentang kekhawatiran kami akan masa depan.

Bapak tidak langsung memotong. Ia menyimak. Ada sorot lain di matanya. Sorot yang bukan lagi skeptis, melainkan ingin mengerti. Lalu, ia pun bercerita. “Dulu, Bapak juga pernah seperti kalian,” katanya, “tapi cara kami berjuang berbeda. Kalian jauh lebih berani.”


Mencari Pijakan di Tengah Badai

Malam itu, meja makan kita menjadi tempat untuk saling mendengar. Bukan hanya mendengar kata-kata, tapi juga cerita, pengalaman, dan ketakutan masing-masing. Di tengah perbedaan pandangan, kami menemukan satu titik temu: cinta. Cinta akan keluarga, dan cinta akan masa depan yang lebih baik. Kami tidak perlu sepakat dalam segala hal, tetapi kami sepakat untuk tetap saling mendukung.

Demonstrasi mungkin akan mereda, isu-isu politik akan berganti. Tapi satu hal yang tak akan berubah: meja makan kami tetap menjadi tempat di mana kami akan selalu kembali. Tempat untuk belajar, untuk berbagi, dan untuk kembali menemukan arti dari kata “keluarga” di tengah semua hiruk-pikuk kehidupan. Karena di sanalah, di atas piring dan di antara sendok, kami menemukan bahwa panggung demokrasi yang paling jujur adalah yang terjadi di rumah, di antara mereka yang kita cintai.

Meja Makan Kita, Panggung Demokrasi yang Paling Sunyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top