Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Disuruh Kerja, Dilarang Bersinar

Karyawan di kantor pemerintahan yang lelah bekerja tapi tidak dihargai

Dunia Kantor Bernama Birokrasi

Di sebuah kantor pemerintahan yang penuh dengan aroma kopi sachet dan fotokopi hangus, di sebuah ruangan ber-AC yang kadang dinginnya melebihi sambutan dari atasannya, hiduplah seorang karyawan bernama Angga. Jabatan resminya: staf pelaksana, jabatan sebenarnya: segala bisa. Jam kerjanya fleksibel tergantung mood atasan, dan job desk-nya? Ah, itu cerita lain.

Angga bukan siapa-siapa di kantor itu. Tapi entah kenapa, kalau ada proposal penting, laporan yang harus rapi, atau presentasi buat atasan ke pusat, orang pertama yang dicari pasti: dia.

Uniknya, Angga tidak pernah diajak rapat perencanaan. Tidak pernah diikutsertakan saat presentasi. Bahkan, saat hasil kerjanya dipuji-puji di forum pimpinan, satu-satunya nama yang disebut adalah nama bosnya. Bukan Angga. Seolah dia itu semacam jin freelance: hadir saat dibutuhkan, hilang saat ada pencitraan.

Angga hanya bisa mengangguk dalam diam. Dia tahu, inilah birokrasi: tempat di mana kerja kerasmu bisa dicap sebagai “inisiatif atasan”, dan usulanmu bisa jadi “ide luar biasa dari pimpinan”.


Si Bos Toxic nan Visioner (Katanya)

Bos Angga ini unik. Dia alergi kalau ada staf yang terlalu cemerlang. “Nanti kamu dikira lebih pinter dari saya,” katanya waktu Angga kasih ide presentasi yang canggih banget, pakai animasi dan infografis segala.

Bos Angga adalah perpaduan antara narsisme, strategi selamat sendiri, dan kemampuan luar biasa dalam menyusun kalimat seperti:

  • “Bikin seolah ini ide saya ya.”
  • “Kamu diam aja, nanti malah ribet.”
  • “Saya tahu kamu bisa, tapi jangan terlalu kelihatan.”

Dengan kata lain: disuruh kerja, tapi jangan kelihatan pintar. Biar yang tampak cerdas di mata kepala dinas ya si bos, padahal saat rapat besar, power point-nya dibuat Angga tengah malam sambil nahan lapar karena lupa makan.

Kalau boleh jujur, satu-satunya hal yang bikin Angga masih waras adalah grup WA teman seangkatan dan tawa kecil di jam istirahat saat gosip kantor bertebaran lebih cepat dari surat dinas.


Kerja Bagai Ninja, Dikenal Pun Tidak

Angga bekerja seperti bayangan. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi hasilnya nyata. Setiap program sukses, dia ada di balik layar. Tapi setiap penghargaan datang, dia malah disuruh jadi tukang dokumentasi.

Ada satu momen epik: saat Angga menyumbang ide kampanye digital yang viral dan jadi rujukan nasional. Atasannya tampil di media lokal dengan pernyataan: “Ini buah pemikiran panjang saya setelah ngopi di beranda.”

Angga cuma bisa tersenyum pahit sambil ngetik laporan evaluasi: “Evaluasi keberhasilan kampanye media digital oleh tim…“, tentu tanpa menyebut dirinya sendiri.


Dilema Bernama Profesionalisme

Kenapa Angga masih bertahan? Kadang karena cinta pada pekerjaannya. Kadang karena KPR masih panjang. Tapi di sela jam makan siang yang diisi nasi bungkus dan obrolan gosip, Angga sering berpikir:
“Kalau saya nggak ada, siapa yang kerjain? Tapi kalau saya kerja, kenapa nggak boleh terlihat?”

Jawabannya: karena kamu terlalu berguna, tapi bukan bagian dari geng dalam. Kamu bukan orang kepercayaan, tapi otakmu terlalu sayang kalau disia-siakan. Jadi ya… tetap dipakai, tapi jangan sampai bersinar. Nanti silau, katanya.


Hidup Tak Hanya Soal Kantor

Tapi Angga bukan tipe yang baper berkepanjangan. Dia percaya satu hal: kalau rejeki nggak datang dari kantor, mungkin Tuhan kasih dari tempat lain.

Dan benar saja. Di luar jam kerja, Angga punya usaha kecil-kecilan jualan kopi literan bareng istrinya. Setiap akhir pekan, mereka buka lapak kecil di depan rumah. Kadang ikut bazar kelurahan. Laris manis. Bahkan ada pelanggan tetap dari kantor yang nggak tahu kalau itu usahanya Angga.

“Mas, ini kopi enak banget. Mirip yang di cafe!”
“Wah iya ya, Pak. Hehehe,” jawab Angga, sambil ngopi sendiri di pojokan lapak.

Bukan cuma itu. Angga juga sehat. Jarang sakit, walau sering kerja lembur. Anak-anaknya ceria, istrinya pengertian, dan dia punya hobi main gitar setiap malam sambil nyanyi lagu-lagu Iwan Fals. Hidupnya sederhana, tapi utuh.


Kamu Tidak Sendiri

Angga sadar, kantor bukan panggung bagi semua orang. Ada yang disuruh kerja, ada yang disuruh tampil. Tapi dia juga tahu, hidup itu luas. Dan kadang, Tuhan sengaja bikin kita tak dianggap di satu tempat, agar kita menemukan tempat lain yang benar-benar menghargai.

Cerita Angga bukan cerita tunggal. Banyak “Angga” lain di balik gedung-gedung megah pemerintahan. Mereka bekerja, berpikir, dan menciptakan. Tapi seringkali, nama mereka tertinggal di bawah tumpukan absen dan surat tugas.

Untuk kalian para “Angga”, teruslah berkarya. Walau tak dianggap, jejakmu ada. Dan semoga suatu hari nanti, akan datang bos yang tidak takut pada cahaya orang lain.

Disuruh Kerja, Dilarang Bersinar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top