Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Sentuhan yang Tak Terucap | Bagian 8

Siluet dua orang saling berdekatan di ruang kantor gelap dengan cahaya neon.

Nafas yang Membakar Malam

Pintu ruangan kecil itu masih tertutup rapat. Naya berdiri membelakangi dinding, tubuhnya bergetar bukan hanya karena suara langkah orang yang barusan lewat, tetapi karena jarak antara dirinya dan Arga yang begitu dekat.

Ia bisa merasakan hembusan napas Arga di pelipisnya. Panas, berbahaya, namun tak tertahankan.
“Kalau ketahuan tadi…” bisik Naya, suaranya setipis kabut, “…semua habis.”

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya jemarinya yang menyentuh garis rahang Naya, mengangkat wajahnya perlahan hingga mata mereka saling mengikat. Ada dunia yang runtuh di sekeliling mereka, tapi di ruang sempit itu, yang tersisa hanya api yang membakar perlahan, dan semakin lama semakin sulit dipadamkan.


Hasrat yang Terikat Rahasia

“Kenapa kita tetap melakukan ini, padahal kita tahu risikonya?” suara Naya hampir seperti keluhan, tapi tubuhnya mendekat tanpa sadar.

Arga tersenyum tipis. “Karena berhenti jauh lebih menyakitkan daripada terus.”
Kalimat itu menancap dalam dada Naya. Ia mencoba memalingkan wajah, namun bibir Arga sudah lebih cepat menahannya. Sentuhan itu lembut, tapi di balik kelembutan, ada ledakan yang membuat lututnya melemah.

Naya merasakan jari Arga menyusuri garis lehernya, seakan menulis puisi dengan kulit sebagai kertas. Setiap helaan napas, setiap desah, berubah menjadi bahasa rahasia yang hanya mereka berdua pahami.

Di kepalanya, alarm moral berdering kencang. Tapi tubuhnya justru semakin menyerah, hanyut dalam ritme yang Arga ciptakan, ritme yang membuatnya ingin terus berada di dalam lingkaran bahaya ini.


Tubuh yang Bicara, Kata yang Terkubur

Ruangan kecil itu makin terasa panas. Bau kertas lama bercampur dengan aroma tubuh mereka yang kian melebur. Naya menutup mata, mencoba menahan diri, tapi sentuhan Arga membuatnya kehilangan kendali.

Tangannya meremas bahu Arga, menahan, tapi sekaligus menariknya lebih dekat. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih dalam, lebih berani, seolah keduanya sudah melupakan siapa mereka sebenarnya, rekan kerja yang harus menjaga batas.

“Arga…” nama itu lolos dari bibir Naya dengan nada lirih yang nyaris seperti doa.
Arga membalas dengan desahan rendah, suaranya menggetarkan telinga Naya. “Kamu tahu kita sudah jauh dari kata kembali.”

Dan benar, semua yang terjadi malam itu adalah pilihan yang tak bisa ditarik lagi.


Gelombang yang Tak Bisa Ditahan

Naya merasa seakan terhisap dalam pusaran gelombang. Setiap inci tubuhnya menjawab sentuhan Arga dengan getar yang tak bisa ia sembunyikan. Jemarinya merayap di dada Arga, merasakan panas kulit yang berdetak di bawah kemeja tipis.

Hening hanya pecah oleh napas mereka yang saling mencari. Waktu seolah berhenti, membiarkan mereka menenggelamkan diri dalam permainan rahasia yang terlalu indah untuk dihentikan.

Namun di balik kenikmatan itu, ada rasa takut yang menempel erat. Rasa takut jika seseorang membuka pintu, rasa takut kalau dunia luar tiba-tiba menerobos masuk dan merampas segalanya.

Tapi justru rasa takut itu yang membuat semuanya terasa lebih hidup, lebih liar, lebih membakar.


Sebuah Panggilan di Malam Sunyi

Di tengah keheningan, tiba-tiba ponsel Naya bergetar di tasnya. Suara getaran itu terdengar nyaring, seolah mengguncang ruang kecil itu.

Dengan panik, Naya menarik diri, dadanya naik turun dengan cepat. Arga menatapnya, mata yang tadi penuh api kini berubah gelap, tegang.
“Siapa?” tanya Arga pelan, tapi nadanya berat, penuh curiga.

Naya merogoh tas, layar ponsel menyala. Sebuah nama terpampang jelas, nama yang tak seharusnya tahu apa pun tentang rahasia mereka.

Mata Naya melebar. Tangannya bergetar.
Arga memicingkan mata.
Dan malam yang semula hanya milik mereka, berubah menjadi ancaman.

Bersambung ke Bagian 9…

Sentuhan yang Tak Terucap | Bagian 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top