Tawaran yang Mustahil
Alana tidak pernah mengambil keputusan impulsif.
Ia menimbang data.
Membaca pola.
Menghitung risiko.
Namun sejak Arsen kembali muncul di ruang rapat dua hari lalu, ritme logikanya terasa terganggu.
Ia berdiri di depan kaca jendela kantornya, memandangi langit kota yang mulai berwarna tembaga. Di meja kerjanya tergeletak proposal strategi krisis untuk klien politik mereka.
Judul slide terakhir berbunyi:
“Distraksi Emosional Skala Nasional.”
Dan di bawahnya satu kalimat sederhana:
Pertunangan publik figur muda dan kredibel.
Alana tahu strategi itu kuat. Publik menyukai kisah cinta. Media lebih suka cincin daripada skandal keluarga. Tapi bagian yang membuat jantungnya berdetak tidak stabil adalah nama yang sudah ia tulis sebagai kandidat.
Arsen Mahendra.
Pintu kantornya diketuk.
“Masuk.”
Arsen melangkah masuk dengan ekspresi sulit dibaca. Ia tidak lagi terlihat seperti pria yang terkejut bertemu mantan. Ia terlihat seperti pria yang siap menghadapi sesuatu.
“Kamu ingin bicara,” katanya.
Alana mengangguk dan menunjuk kursi di depannya. “Aku akan langsung ke intinya.”
Ia menyalakan layar. Slide demi slide berganti. Data sentimen publik. Grafik penurunan reputasi. Simulasi pemberitaan media.
Arsen memperhatikan tanpa menyela.
“Klien butuh cerita baru,” lanjut Alana tenang. “Sesuatu yang kuat, personal, dan kredibel.”
“Dan kamu punya ide.”
“Aku punya solusi.”
Ia menatap langsung ke mata Arsen.
“Kita bertunangan.”
Hening.
Tidak ada reaksi dramatis. Tidak ada tawa. Hanya tatapan tajam yang perlahan menggelap.
“Kita?” ulang Arsen pelan.
“Hubungan publik. Enam bulan. Terikat kontrak. Semua terukur. Semua terkendali.”
Arsen berdiri perlahan, berjalan mendekati meja. “Kamu ingin menjadikan kita… strategi?”
“Aku ingin menyelamatkan klien. Dan reputasimu juga akan naik. Kamu akan terlihat stabil, berkomitmen, visioner.”
Arsen berhenti tepat di depan meja. Jarak mereka hanya selebar permukaan kayu yang memisahkan.
“Kamu selalu hebat mengemas perasaan jadi proyek.”
Nada itu tidak keras. Tapi cukup dalam untuk menusuk.
Alana mengangkat dagu. “Ini bukan soal perasaan.”
“Benarkah?”
Tatapan Arsen turun ke bibirnya. Lambat. Tanpa terburu-buru. Seakan mengingat sesuatu yang tidak pernah ia lupakan.
“Enam bulan pura-pura mencintaiku?” Arsen melanjutkan. “Kamu pikir itu mudah?”
“Kita pernah melakukannya sungguhan,” balas Alana sebelum sempat menyaring kalimatnya.
Kesalahan.
Ruangan terasa lebih sempit tiba-tiba.
Arsen menyandarkan kedua tangannya di meja, sedikit membungkuk. Wajahnya kini lebih dekat. Terlalu dekat untuk sekadar diskusi profesional.
“Kita tidak pernah pura-pura,” katanya rendah.
Nada suaranya membuat napas Alana tersendat sepersekian detik.
Ia bisa melihat detail kecil yang dulu begitu ia kenal. Garis halus di sudut mata. Bekas luka tipis di alis kanan. Aroma kayu yang samar ketika ia bergerak.
“Kontrak ini punya aturan,” Alana memaksa suaranya tetap stabil. “Tidak ada pembahasan masa lalu. Tidak ada sentuhan di luar kebutuhan publik. Tidak ada ekspektasi personal.”
Arsen tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Lebih seperti tantangan.
“Dan kalau aku tidak setuju?”
“Aku akan mencari kandidat lain.”
Itu gertakan. Dan Arsen tahu.
Ia berdiri tegak lagi. Mengamati Alana dengan cara yang membuat kulitnya terasa hangat.
“Kamu tahu kenapa aku menolak proyek ini kemarin?” tanya Arsen tiba-tiba.
“Karena kamu tidak suka dunia politik.”
“Bukan.”
Ia melangkah mengitari meja. Kini mereka berdiri tanpa penghalang.
“Karena bekerja dekat denganmu tanpa menyentuhmu lagi terdengar seperti siksaan.”
Kalimat itu tidak keras. Tidak vulgar. Tapi cukup jujur untuk membuat udara di antara mereka bergetar.
Alana menelan ludah.
“Kita di kantor,” bisiknya.
“Aku tahu.” Suara Arsen semakin rendah. “Tapi kamu yang mengusulkan pertunangan.”
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia membenci fakta bahwa tubuhnya bereaksi sebelum logika sempat mengendalikan.
“Ini strategi,” ulangnya.
“Dan kalau perasaanku bukan strategi?”
Itu pertama kalinya sejak pertemuan ulang mereka, Arsen membuka celah.
Alana menatapnya lama. Mencari kebohongan. Tidak ada.
“Enam bulan,” katanya akhirnya. “Kita tampil sebagai pasangan sempurna. Setelah itu, kita selesai.”
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu ia mengangguk perlahan.
“Aku punya satu syarat.”
Alana menegang. “Apa?”
“Kalau selama enam bulan itu perasaan lama muncul lagi, kita tidak akan pura-pura tidak melihatnya.”
Itu bukan klausul profesional.
Itu undangan berbahaya.
“Kita tidak bisa menjamin itu,” jawab Alana pelan.
“Aku tidak pernah berhenti,” kata Arsen, nyaris berbisik.
Kalimat itu menggantung di udara seperti pengakuan yang terlalu lama tertahan.
Alana merasakan dadanya sesak. Empat tahun lalu, ia mungkin akan langsung memeluknya. Sekarang, ia hanya berdiri diam, menjaga jarak setengah langkah yang terasa tipis.
“Ini kesepakatan bisnis,” ia mencoba menegaskan lagi.
Arsen menatapnya dalam. “Kamu boleh menyebutnya apa pun. Aku akan menandatangani.”
Hening.
Keputusan itu terasa seperti melompat dari tebing tanpa tahu kedalaman laut di bawahnya.
Alana mengangguk pelan.
“Kontrak akan dikirim malam ini.”
Saat Arsen berbalik menuju pintu, ia berhenti sejenak.
“Alana.”
Ia menoleh.
“Kalau ini kesalahan,” lanjut Arsen, “aku tidak akan menyesal.”
Pintu tertutup.
Alana berdiri sendirian di tengah ruangan, napasnya masih tidak sepenuhnya stabil.
Ia baru saja menawarkan kontrak hubungan palsu dengan mantan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Arsen pergi, ia tidak yakin siapa yang sebenarnya sedang ia lindungi.
Reputasi klien.
Atau hatinya sendiri.
Bersambung ke Episode 3…