Malam Ketika Semuanya Mulai Runtuh
Langit kota menggantung kelabu sejak pagi, seolah menahan sesuatu yang lebih berat daripada hujan. Di dalam gedung kantor pusat, suasana bahkan terasa lebih dingin dari biasanya. Orang-orang berbisik di lorong, ponsel bergetar tanpa henti, dan layar komputer menampilkan berita yang sama.
Potongan rekaman dari tepi danau.
Sepuluh detik yang kini berubah menjadi badai.
Ardi berdiri di depan jendela ruangannya, menatap jalanan yang basah oleh gerimis. Tangannya menggenggam ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah mencoba mematikan notifikasi, tapi tetap saja pesan baru berdatangan.
Teman lama. Rekan kerja. Bahkan wartawan.
Semua menanyakan hal yang sama.
“Apakah itu kamu di video itu?”
Di belakangnya, layar televisi kantor menampilkan sebuah kanal berita bisnis. Suara penyiar perempuan yang tenang justru membuat dada Ardi semakin berat.
“Potongan video yang diduga melibatkan salah satu pimpinan proyek arsitektur nasional kini viral di media sosial. Meski identitas belum dikonfirmasi, banyak warganet berspekulasi bahwa pria dalam video tersebut adalah Ardi Santosa…”
Ardi mematikan televisi itu dengan satu gerakan cepat.
Ruangan kembali sunyi.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor tak dikenal.
Ardi menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.
“Ardi.”
Suara di seberang membuat napasnya terhenti.
Tika.
Suara itu masih sama, tenang, lembut, tapi membawa sesuatu yang lebih dingin dari malam.
“Aku lihat kamu sudah mulai terkenal sekarang,” katanya ringan.
Ardi menutup matanya sejenak, mencoba menahan amarah yang naik ke tenggorokan.
“Ini semua ulahmu.”
Tika tertawa kecil.
“Jangan terlalu cepat menyalahkan aku. Video itu baru sepuluh detik, Di. Kamu sendiri yang memberikan sisanya pada dunia.”
Ardi menggertakkan rahang.
“Apa maumu?”
Beberapa detik hening.
Lalu Tika menjawab dengan nada yang berubah lebih rendah.
“Yang selalu aku inginkan.”
Ardi tidak menjawab.
Ia sudah tahu jawabannya.
“Datanglah ke gedung lama di pinggir kota malam ini,” lanjut Tika. “Jam sepuluh.”
“Kalau tidak?”
Suara Tika terdengar hampir seperti bisikan.
“Besok pagi, bukan cuma sepuluh detik video yang orang lihat.”
Panggilan terputus.
Ardi menatap layar ponselnya lama.
Di sisi lain kota, Rara juga sedang menatap layar yang sama menegangkannya.
Ia duduk di apartemennya dengan laptop terbuka di meja. Media sosial bergerak seperti api yang menyebar di padang kering. Potongan video itu sudah diunggah ulang ratusan kali.
Komentar semakin liar.
“Bos besar ternyata romantis juga.”
“Skandal kantor nih?”
“Kasihan cewek yang satunya.”
Rara menutup laptopnya keras.
Dada perempuan itu naik turun cepat.
Ia tidak takut pada gosip.
Yang ia takutkan adalah satu hal: Tika belum selesai.
Ponsel Rara bergetar.
Pesan dari Ardi.
“Dia menghubungiku.”
Rara langsung menelepon.
Begitu Ardi mengangkat, ia bisa mendengar napas lelaki itu berat.
“Apa katanya?” tanya Rara.
Ardi ragu sejenak sebelum menjawab.
“Dia mau aku datang malam ini.”
“Sendirian?”
“Ya.”
Rara bangkit dari kursinya.
“Jangan pergi.”
Ardi terdiam.
“Aku harus,” katanya akhirnya.
“Ini jebakan, Di.”
“Aku tahu.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Ardi berkata pelan, “Tapi kalau aku tidak datang, dia akan menghancurkan kita.”
Rara menutup matanya.
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Ardi menoleh ke jendela.
“Kalau kamu pergi,” kata Rara perlahan, “aku ikut.”
“Rara…”
“Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi dia sendirian lagi.”
Permainan Terakhir Dimulai
Malam turun lebih cepat dari biasanya.
Gedung lama di pinggir kota itu sudah lama tidak digunakan. Lampu-lampunya redup, dan sebagian jendela pecah.
Ardi masuk lebih dulu.
Langkahnya bergema di lantai beton.
Di tengah ruangan luas itu, seseorang sudah menunggu.
Tika.
Ia berdiri di dekat meja panjang yang dipenuhi beberapa laptop dan kabel. Cahaya lampu gantung membuat bayangannya jatuh panjang di lantai.
Tika tersenyum ketika melihat Ardi.
“Akhirnya.”
Ardi menatap sekeliling.
“Apa ini?”
Tika menyentuh salah satu laptop.
“Tempat di mana semuanya dimulai.”
Ardi mengerutkan kening.
“Yang kamu lihat di berita itu baru awal, Di,” kata Tika. “Video kalian hanyalah umpan.”
Ardi merasakan sesuatu dingin merayap di punggungnya.
“Apa maksudmu?”
Tika memutar layar laptop ke arahnya.
Di sana, deretan file muncul.
Dokumen internal.
Email perusahaan.
Data proyek.
Ardi membeku.
“Ini data rahasia perusahaan.”
Tika mengangguk santai.
“Dan semuanya sekarang ada di tanganku.”
Pintu di belakang Ardi tiba-tiba terbuka.
Rara masuk dengan napas cepat.
Tika memiringkan kepala.
“Ah. Jadi kamu ikut juga.”
Rara menatap laptop-laptop itu.
Matanya melebar.
“Kamu yang membocorkan data ini?”
Tika berjalan pelan mengitari meja.
“Orang-orang terlalu sibuk membicarakan skandal cinta kalian,” katanya. “Tidak ada yang menyadari sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.”
Ardi merasakan kemarahan yang akhirnya meledak.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
Tika berhenti tepat di depan mereka.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
“Kalian ingin tahu kebenaran?”
Ia menunjuk layar laptop.
“Perusahaan kalian akan runtuh dalam tiga hari.”
Rara menggeleng.
“Ini gila.”
Tika mengangkat ponselnya.
“Semua data ini sudah dijadwalkan untuk dikirim ke beberapa media internasional.”
Ardi menatapnya tajam.
“Kalau kamu lakukan itu, kamu juga akan hancur.”
Tika tersenyum lagi.
“Tidak, Ardi.”
Matanya berkilat.
“Karena dunia akan percaya satu cerita.”
Ia menatap Rara.
“Bahwa semua ini dilakukan oleh kalian berdua.”
Sunyi menelan ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Ardi benar-benar merasa sesuatu yang jauh lebih besar dari skandal cinta sedang bergerak.
Dan mereka baru saja masuk ke tengahnya.
Tika menekan satu tombol di layar ponselnya.
Di laptop, hitungan mundur muncul.
72:00:00
“Tiga hari,” katanya lembut.
“Selamat datang di permainan terakhir.”
Dan di dalam dada Ardi, satu kesadaran muncul seperti petir:
Jika mereka kalah kali ini, bukan hanya reputasi yang akan hancur.
Segalanya akan ikut runtuh.
Bersambung ke Bagian 22…