Di Antara Sketsa dan Dada yang Tak Tenang
Malam turun perlahan, seperti tirai yang ditarik pelan di atas panggung yang menyimpan rahasia. Kantor sudah sepi. Jam dinding menunjukkan pukul 19.11, waktu di mana para pekerja biasanya telah lenyap ke rumah masing-masing.
Tapi Rara masih duduk di meja desain, lampu meja menyinari wajahnya yang letih tapi keras kepala. Jari-jarinya bermain di ujung pensil, sesekali menekan pelipis.
Lalu suara itu lagi. Langkah yang sudah ia kenali. Berat. Terukur. Milik seseorang yang tak pernah ia minta untuk hadir lebih lama dari yang semestinya, tapi tak pernah ia tolak saat datang.
Ardi.
“Masih belum pulang?” tanyanya sambil menyender di kusen pintu.
Rara tak menjawab. Ia tahu suara itu bukan sekadar basa-basi. Dan diamnya bukan karena tak tahu harus berkata apa, tapi karena terlalu banyak yang ingin dikatakan.
“Aku revisi ulang proyek villa danau,” ucapnya akhirnya. “Klien mau jendela yang lebih besar. Katanya… ingin cahaya pagi membangunkan mereka.”
Ardi melangkah masuk. Satu langkah. Dua. Lalu duduk di pinggir meja, menghadapnya.
“Dan kamu? Cahaya pagi atau cahaya senja yang kamu suka?”
Rara mengangkat wajah. Ada sebersit senyum di sudut bibirnya, seperti senyum seseorang yang tahu dirinya sedang bermain api… tapi tetap memilih menari di atas bara.
“Aku suka yang tak membangunkanku terlalu cepat,” jawabnya. “Seperti kamu.”
Ardi mengernyit. “Aku?”
“Kamu hadir pelan. Tapi bikin orang susah tidur.”
Senyap mengisi ruangan. Hanya suara detik jam dan desau lembut angin dari jendela kayu. Di luar sana, danau memantulkan remang bulan seperti kaca retak, tenang tapi menyimpan riak di dalam.
Ardi perlahan mengambil sketsa dari tangan Rara, menaruhnya di meja, lalu menatap langsung ke matanya.
“Aku atasanmu, Ra.”
“Aku tahu.”
“Kalau ini berlanjut… banyak hal bisa rusak.”
Rara menelan ludah. Ia tahu. Tapi seperti semua yang indah dan berbahaya, selalu ada jeda di mana logika kalah oleh rasa.
“Beberapa hal,” katanya pelan, “memang tidak untuk dibangun dengan logika.”
Ardi menatapnya. Matanya menyisir setiap lekuk wajah Rara, bukan dengan nafsu murahan, tapi seperti seseorang yang mengagumi lukisan: lama, perlahan, dengan napas yang menahan sesuatu di dada.
Lalu dia bersuara, hampir berbisik.
“Kalau kita buka pintu itu… kita tak bisa menutupnya lagi.”
Dan kali ini, Rara yang mendekat. Suaranya lembut, tapi penuh keberanian.
“Kalau kita tak pernah buka… kita tak akan pernah tahu, apakah cahaya itu akan membakar, atau justru menghangatkan.”
Bersambung ke Bagian 3…