Ruang Kerja yang Selalu Sama, Tapi Ceritanya Selalu Baru
Angga sudah lama jadi staf di kantor pemerintahan. Ruang kerjanya tidak pernah berubah: meja penuh map lusuh, komputer yang lebih sering error daripada berfungsi, dan dispenser yang hanya mengeluarkan air hangat. Tapi cerita yang terjadi di kantor itu selalu punya bumbu drama baru, apalagi kalau sudah menyangkut bos dan ambisinya.
Bagi Angga, kantor kadang lebih mirip teater daripada tempat kerja. Ada pemeran utama, ada figuran, ada penonton, bahkan ada kru di balik layar. Sayangnya, Angga selalu jadi kru yang harus berlari ke sana kemari tapi tidak pernah dapat tepuk tangan.
Kalau ada laporan penting, dia yang mengetik. Kalau ada presentasi, dia yang bikin slide. Kalau ada rapat besar, dia yang menyiapkan data. Tapi begitu hasilnya dipuji, nama yang disebut bukan dia. Yang tampil di depan, tetap bosnya dengan senyum lebar.
“Beginilah birokrasi,” kata Angga sambil menahan tawa pahit. “Kalau prestasi bisa dijilid, maka boslah yang selalu jadi sampulnya.”
Saat Kursi Lebih Berharga daripada Kinerja
Belakangan ini suasana kantor jadi lebih panas dari biasanya. Bukan karena AC mati, walau itu juga sering, tapi karena ada isu suksesi jabatan. Sang bos mulai rajin muncul di mana-mana, seolah-olah hidupnya didedikasikan untuk negara.
Angga melihat perubahan yang drastis. Dulu bosnya jarang datang pagi, sekarang rajin apel. Dulu bicara seadanya, sekarang setiap rapat penuh kata-kata manis seperti “integritas”, “inovasi”, dan “transformasi”. Semua orang tahu, ini bukan sekadar semangat kerja, melainkan strategi mendekati kursi yang lebih empuk.
Prestasi pun tiba-tiba dicetak ulang. Foto lama diedit biar kelihatan meriah, data lama dipoles biar naik grafiknya. Angga bahkan ditugaskan bikin slogan baru: “Melayani dengan Hati, Memimpin dengan Prestasi.”
Padahal Angga tahu, hati yang dimaksud hanya simbol di spanduk, bukan di perilaku. Dan prestasi itu? Ya, hasil lembur staf-staf tak bernama.
Angga, Si Penulis Naskah Bayangan
Hari itu ada rapat besar di kantor provinsi. Bos Angga tampil dengan penuh percaya diri, membawa setumpuk laporan dan slide presentasi yang semuanya dibuat Angga. Dari kursi belakang, Angga menyaksikan bosnya membaca teks yang ia tulis sendiri.
“Saudara-saudara, ini adalah hasil kerja keras kami membangun inovasi birokrasi…” kata bos dengan intonasi mantap, padahal semalam Angga menuliskan kalimat itu sambil menahan kantuk dan kopi sachet.
Semua tepuk tangan. Semua pujian mengalir. Angga? Tetap duduk di bayangan. Tidak ada yang tahu kalau ide infografis keren itu miliknya, atau kalau kata-kata bijak itu berasal dari tangannya.
“Prestasi di atas kertas, ambisi di balik panggung,” gumam Angga. “Kalau semua bisa dimanipulasi, mungkin saya juga bisa jadi pesulap.”
Kantor Bukan Satu-Satunya Panggung
Namun berbeda dengan staf lain yang sudah mulai muak, Angga memilih santai. Dia percaya hidup tidak berhenti di meja kerja. Kalau rezeki tidak datang dari kantor, mungkin Tuhan kirim lewat jalan lain.
Buktinya, usaha sampingan kopi literan yang ia rintis dengan istrinya makin ramai. Setiap akhir pekan mereka buka lapak di depan rumah, dan sering ikut bazar kelurahan. Lucunya, ada juga pelanggan tetap dari kantor, yang tidak tahu kalau kopi itu buatan Angga.
“Mas, ini kopi enak banget. Mirip yang di cafe,” kata seorang rekan kerja.
“Wah, iya ya Pak,” jawab Angga sambil menahan senyum.
Bukan hanya usaha, keluarganya pun jadi sumber kebahagiaan. Anak-anaknya sehat, istrinya selalu mendukung, dan setiap malam Angga bisa main gitar sambil nyanyi lagu lama. Rasanya jauh lebih tulus daripada tepuk tangan basa-basi di kantor.
Bukan Semua Lampu Sorot Untuk Kita
Di kantor, Angga mungkin cuma kru tanpa nama. Tapi di hidupnya sendiri, dia adalah pemeran utama. Dia sudah menerima kenyataan bahwa tidak semua panggung memberikan cahaya yang adil. Ada panggung tempat orang pura-pura bersinar, ada juga panggung kecil di rumah yang justru lebih membahagiakan.
Jadi sekarang, setiap kali bosnya berkoar tentang prestasi, Angga cukup angkat alis sambil berkata dalam hati:
“Silakan ambil semua panggung, Pak. Saya sudah punya penonton sendiri di rumah, dan itu lebih berharga daripada kursi empuk.”