Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Kontrak Rasa yang Terlambat | Episode 1

Seorang wanita elegan dan pria berjas saling menatap tegang di ruang rapat kantor modern saat matahari terbenam.

Reuni yang Tidak Direncanakan

Ruang rapat lantai dua puluh itu selalu terasa dingin bagi Alana.
Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena keputusan-keputusan besar lahir di sana. Reputasi dibentuk. Karier dihancurkan. Citra diciptakan dengan presisi.

Ia berdiri di depan layar presentasi, remote di tangan, gaun hitamnya jatuh rapi mengikuti lekuk tubuh yang selama bertahun-tahun ia jaga dengan disiplin. Rambutnya disanggul rendah. Profesional. Terkendali.

“Strategi ini akan menekan sentimen negatif hingga 37 persen dalam dua minggu pertama,” ucapnya tenang.

Pintu ruang rapat terbuka.

Dan dunia seakan berhenti setengah detik.

Pria yang masuk itu berdiri dengan setelan abu gelap yang pas di bahunya, langkahnya santai tapi terukur. Wajahnya lebih matang dari terakhir kali ia lihat, garis rahang lebih tegas, tatapan lebih dalam. Rambutnya sedikit lebih pendek. Lebih dewasa. Lebih berbahaya bagi stabilitas emosinya.

Arsen.

Alana tidak pernah benar-benar melupakan namanya. Tubuhnya mengingat lebih dulu sebelum pikirannya sempat bereaksi. Ada sensasi panas tipis menjalar dari tengkuk turun ke tulang belakangnya.

Arsen berhenti ketika mata mereka bertemu.

Tak ada senyum.
Tak ada sapaan.
Hanya tatapan panjang yang menyimpan terlalu banyak sejarah.

“Maaf terlambat,” suara Arsen tenang, rendah, dan sialnya masih sama seperti dulu. Suara yang dulu pernah berbisik di telinganya saat lampu kamar padam dan hujan mengetuk jendela apartemen kecil mereka.

Alana memaksa dirinya kembali ke mode profesional.

“Tidak masalah. Kita baru masuk ke bagian proyeksi media,” jawabnya, datar.

Rapat berlanjut. Grafik demi grafik berganti. Namun udara berubah. Tegang. Sarat listrik tak terlihat.

Arsen duduk di ujung meja. Diam. Mengamati. Sesekali mencatat. Tapi Alana tahu ia juga sedang memperhatikannya.

Ia bisa merasakannya.

Setiap kali ia berjalan melewati meja untuk menunjuk layar, ia sadar akan tatapan itu. Terasa di kulitnya seperti sentuhan tanpa izin. Mengganggu. Menggoda.

Dulu, tatapan itu yang membuatnya merasa diinginkan sepenuhnya.

Sekarang, tatapan itu membuatnya ingin melarikan diri.

Atau mendekat.

Rapat selesai satu jam kemudian. Klien utama mereka, seorang politisi dengan citra keluarga yang sedang retak karena isu perselingkuhan anaknya, terlihat panik.

“Kita butuh distraksi besar,” kata pria itu gelisah. “Sesuatu yang membuat publik bicara tentang hal lain.”

Alana mengangguk. Otaknya sudah bekerja cepat.

Sebuah citra romantis.
Sebuah kisah pertunangan elegan.
Sebuah narasi tentang komitmen dan stabilitas.

Ia menutup laptopnya. “Saya akan susun konsep dalam 48 jam.”

Semua berdiri. Kursi bergeser. Suara langkah mulai menjauh.

Tinggal mereka berdua.

Sunyi.

Alana mengatur berkasnya dengan hati-hati, berusaha terlihat sibuk.

“Aku tidak tahu kamu menangani akun ini,” suara Arsen akhirnya memecah keheningan.

Nada itu. Tidak sepenuhnya dingin. Tidak sepenuhnya hangat.

“Sekarang tahu,” jawabnya singkat.

Arsen melangkah lebih dekat. Terlalu dekat untuk sekadar percakapan profesional. Jarak di antara mereka tinggal setengah meter. Ia bisa mencium aroma kayu dan citrus yang samar dari cologne-nya.

Aroma yang dulu menempel di seprai putihnya.

“Kamu terlihat berbeda,” ucap Arsen pelan.

Alana mengangkat wajahnya. “Lebih tua?”

“Lebih… tak tersentuh.”

Kalimat itu menggantung. Berat.

Jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya.

“Kita di kantor,” katanya tegas.

“Aku tahu.” Tatapan Arsen turun sekilas ke bibirnya sebelum kembali ke mata. “Aku hanya mengamati.”

Mengamati.

Dulu, ia tidak hanya mengamati.
Dulu, tangan itu hafal setiap inci kulitnya.

Alana menarik napas dalam. Ia tidak boleh goyah. Tidak sekarang. Tidak setelah empat tahun membangun kembali dirinya dari puing-puing kepergian sepihak pria ini.

“Kamu klien, Arsen. Saya konsultan. Itu saja.”

Ada kilatan sesuatu di mata Arsen. Penyesalan? Tantangan?

“Aku tidak pernah berhenti…”

“Jangan.” Alana memotong cepat. “Kita tidak melakukan itu di sini.”

Hening lagi.

Untuk sesaat, ia melihat versi Arsen yang dulu. Pria yang berdiri di depan pintu apartemennya, koper di tangan, mengatakan bahwa ia “butuh waktu” tanpa penjelasan lain. Tanpa kesempatan bertanya. Tanpa pamit yang layak.

Luka itu belum benar-benar kering.

Arsen mundur setengah langkah. Memberinya ruang. Tapi tatapannya masih menahan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Profesional.”

Alana mengangguk. Namun saat ia melewati Arsen untuk keluar ruangan, bahunya bersentuhan dengan dada pria itu.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup untuk membuat napasnya tercekat.

Sentuhan itu seperti percikan kecil yang membakar memori lama. Malam-malam panjang. Tawa di dapur sempit. Ciuman yang dulu terasa seperti janji masa depan.

Ia berjalan pergi tanpa menoleh.

Namun di lorong kaca yang memantulkan bayangan kota, Alana berhenti sebentar. Jantungnya masih berdebar tidak stabil.

Dua hari.
Ia punya dua hari untuk menciptakan distraksi besar bagi kliennya.

Dan ide paling efektif yang terlintas di kepalanya terasa gila.

Pertunangan publik.

Citra cinta yang sempurna.

Dan pasangan yang paling meyakinkan untuk itu… adalah pria yang baru saja kembali mengacaukan ritme napasnya.

Arsen.

Alana menutup matanya sejenak.

Kontrak hubungan palsu dengan mantan yang belum selesai.

Itu strategi yang brilian.

Dan mungkin, kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Bersambung ke Episode 2…

Kontrak Rasa yang Terlambat | Episode 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top