Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Blog Belog Adiarta

Just a stupid (belog) blog of Adiarta

Sentuhan yang Tak Terucap | Bagian 7

Siluet dua orang berdiri dekat pintu kantor dengan cahaya redup.

Bayangan di Balik Pintu

Suara pintu kantor yang perlahan menutup di belakangnya membuat Naya menoleh cepat. Malam itu, kantor sudah hampir kosong. Hanya sisa cahaya neon pucat yang menemani derap langkahnya.

Tapi ada sesuatu yang berbeda. Bayangan panjang di lantai seolah menunggunya. Bukan sekadar bayangan lampu, melainkan sosok Arga yang berdiri tenang, seakan sudah tahu kemana langkahnya akan berakhir.

“Kenapa kamu selalu datang di saat aku berusaha menjauh?” suara Naya nyaris pecah, lirih, penuh kontradiksi.

Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya saja sudah cukup untuk membuat tubuh Naya bergetar. Malam itu, ruang kosong kantor berubah menjadi panggung rahasia, penuh godaan yang tak terucapkan.


Ketegangan yang Mengikat

Ruang koridor panjang terasa lebih sempit, seakan hanya menyisakan udara untuk mereka berdua.
“Karena kamu sendiri yang memanggilku,” jawab Arga akhirnya, dengan suara berat, menekan setiap kata seolah menancapkan panah pada hati Naya.

Naya terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi tubuhnya lebih jujur daripada lisannya. Nafasnya yang terengah, jari-jarinya yang gelisah meremas tas kerja, semuanya menunjukkan bahwa ia sudah lama menunggu kehadiran itu.

Dan ketika Arga berjalan mendekat, langkah demi langkah, ia tahu bahwa semua batas yang coba dipertahankan bisa runtuh hanya dengan satu sentuhan.


Rahasia di Balik Dinding

Mereka akhirnya terjebak di balik pintu ruang kecil dekat gudang peralatan kantor. Ruangan itu gelap, sempit, hanya cahaya redup dari ventilasi yang membiaskan garis tipis di wajah Naya.

“Kalau ada yang tahu kita di sini, habis sudah kita berdua,” bisik Naya, tapi tangannya justru tidak melepaskan genggaman Arga.
“Kamu takut, atau justru makin ingin?” balas Arga, menyentuh wajahnya perlahan.

Ruangan yang biasanya sunyi itu mendadak hidup, penuh ketegangan yang menggetarkan. Bau kertas lama, aroma kopi yang tersisa di napas mereka, bercampur menjadi satu atmosfer yang memabukkan.

Naya menutup mata. Tubuhnya bersandar ke dinding, sementara jarak di antara mereka menghilang seperti tak pernah ada.


Sensasi yang Tak Bisa Dibendung

Naya merasakan detak jantung Arga yang begitu dekat, menyusup ke dalam nadinya sendiri. Sentuhan kecil di pergelangan tangannya membuat sekujur tubuhnya gemetar.
“Aku benci kenyataan kalau kita selalu harus sembunyi,” desah Naya.
“Kadang justru yang tersembunyi itulah yang paling berharga,” jawab Arga, sebelum bibirnya menyapu lembut garis rahang Naya.

Gelombang panas itu datang begitu cepat, membuat Naya sulit bernapas. Ia merasakan betapa rapuhnya pertahanan yang selama ini ia bangun. Setiap gerakan, setiap sentuhan, bagaikan baris puisi yang dibisikkan di telinga, liar sekaligus indah.

Dan saat tangan Arga merayapi punggungnya, ia tahu bahwa rahasia mereka semakin dalam, semakin sulit untuk dikendalikan.


Mata yang Mengintai

Tepat ketika Naya terbuai dalam lingkaran itu, suara langkah terdengar dari luar. Ada seseorang di koridor.
Mereka berdua membeku. Nafas tertahan, jantung berpacu lebih kencang dari sebelumnya.

Bayangan samar lewat di balik celah pintu. Lalu suara yang terdengar jelas: “Hmm… kenapa pintu ini terkunci?”

Naya dan Arga saling menatap dalam gelap. Bukan hanya rahasia mereka yang dipertaruhkan malam itu, tapi juga masa depan.

Dan dalam keheningan yang mencekam, Naya tahu, seseorang mungkin sudah mencium bau rahasia mereka.

Bersambung ke Bagian 8…

Sentuhan yang Tak Terucap | Bagian 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top